Sunday, January 25, 2009

Askep Combustio

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Luka Bakar

A. Pengertian

Luka bakar yaitu luka yang disebabkan oleh suhu tinggi, dapat disebabkan banyak faktor, yaitu fisik seperti api, air panas, listrik seperti kabel listrik yang terbuka, petir atau bahan kimiawi seperti asam atau basa kuat.

Luka bakar secara sederhana dipahami sebagai trauma panas pada kulit. Dalam konteks penanganan trauma (rudapaksa), harus dibedakan antara penyebab dan mekanisme trauma. Akibat luka bakar karena panas tergantung dari tingginya suhu dan lamanya kontak atau pemaparan.

Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi.

B. Etiologi Luka Bakar

Penyebab luka bakar dapat dibedakan menjadi sbb.:

1.Jilatan api ke tubuh (flash);

2.Kobaran api di tubuh (flame);

3.Terkena cairan panas (scald), dan perlu dibedakan, misalnya antara tersiram air panas dan minyak panas;

4.Kontak dengan benda panas.

5.Luka bakar listrik (sering dijumpai), dan harus dibedakan antara karena loncatan bunga api listrik (flame) atau karena arus listrik (electrical current).

6.Luka bakar kimia, harus dibedakan antara yang berefek lokal (asam atau basa kuat) dan yang berefek sistemik karena diserap tubuh (phenol);

7.Luka bakar karena suhu sangat dingin (frost bite) yang jarang terjadi di Indonesia.

C. Patofisologi Luka Bakar

Luka bakar mengakibatkan peningkatan permebilitas pembuluh darah sehingga air, klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi. Burn shock ( shock Hipovolemik ) merupakan komplikasi yang sering terjadi, manisfestasi sistemik tubuh trhadap kondisi ini adalah :

1. Respon kardiovaskuiler

perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melelui kebocoran kapiler mengakibatkan kehilangan Na, air dan protein plasma serta edema jaringan yang diikuti dengan penurunan curah jantung Hemokonsentrasi sel darah merah, penurunan perfusi pada organ mayor edema menyeluruh.

2. Respon Renalis

Dengan menurunnya volume inravaskuler maka aliran ke ginjal dan GFR menurun mengakibatkan keluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal

3. Respon Gastro Intestinal

Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukan luas. Pemasangan NGT mencegah terjadinya distensi abdomen, muntah dan aspirasi.

4. Respon Imonologi

Sebagian basis mekanik, kulit sebgai mekanisme pertahanan dari organisme yang masuk. Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam luka.

D. Klasifikasi luka bakar

Untuk membantu mempermudah penilaian dalam memberikan terapi dan perawatan, luka bakar diklasifikasikan berdasarkan penyebab, kedalaman luka, dan keseriusan luka, yakni :

1. Berdasarkan penyebab :

Luka bakar karena api

Luka bakar karena air panas

Luka bakar karena bahan kimia

Laka bakar karena listrik

Luka bakar karena radiasi

Luka bakar karena suhu rendah (frost bite).

2. Berdasarkan kedalaman luka bakar

a. Luka bakar derajat I

- Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis

- Kulit kering, hiperemi berupa eritema

- Tidak dijumpai bulae

- Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi

- Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari

b. Luka bakar derajat II

- Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi.

- Dijumpai bulae.

- Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi.

- Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal.

Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

1. Derajat II dangkal (superficial)

- Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.

- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.

- Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.

2. Derajat II dalam (deep)

- Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.

- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.

- Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari sebulan.

c. Luka bakar derajat III

- Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam.

- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan.

- Tidak dijumpai bulae.

- Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar.

- Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.

- Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.

- Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar luka.

Dalam menentukan ukuran luas luka bakar kita dapat menggunakan beberapa metode, salah satunya yaitu :

Rule of nine

Kepala dan leher : 9%

Dada depan dan belakang : 18%

Abdomen depan dan belakang : 18%

Tangan kanan dan kiri : 18%

Paha kanan dan kiri : 18%

Kaki kanan dan kiri : 18%

Genital : 1%

E. Komplikasi Lanjut Luka Bakar

Hypertropi jaringan.

Kontraktur.

F. Penatalaksanaan

Penanggulangan terhadap shock

mengatasi gangguan keseimbangan cairan

Protokol pemberian cairan mengunakan rumus Brooke yang sudah dimodifikasi yaitu :

24 jam I : Ciran Ringer Lactat : 2,5 - 4 cc/kg BB/% LB.

a. ½ bagian diberikan dalam 8 jam pertama (dihitung mulai dari jam kecelakaan).

b. ½ bagian lagi diberikan dalam 16 jam berikutnya.

24 jam II : Cairan Dex 5 % in Water : 24 x (25 + % LLB) X BSA cc.

Albumin sebanyak yang diperlukan, (0,3 - 0,5 cc/kg/%).

Mengatasi gangguan pernafasan

Mengataasi infeksi

Eksisi eskhar dan skin graft.

Pemberian nutrisi

Rahabilitasi

Penaggulangan terhadap gangguan psikologis.

G. Pemeriksaan Penunjang

Diagnosa medis

pemeriksaan dignostik

laboratorium : Hb, Ht, Leucosit, Thrombosit, Gula darah, Elektrolit, Ureum, Kreatinin, Protein, Albumin, Hapusan luka, Urine lengkap, Analisa gas darah (bila diperlukan), dan lain - lain.

Rontgen : Foto Thorax, dan lain-lain.

EKG

CVP : untuk mengetahui tekanan vena sentral, diperlukan pada luka bakar lebih dari 30 % dewasa dan lebih dari 20 % pada anak.Dan lain-lain.

H. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR

Diagnosa Keperawatan 1:

Tidak efektifnya pertukaran gas/oksigen b.d kerusakan jalan nafas.

Tujuan :

Oksigenasi jaringan adekuat

Kriteria Hasil:

Tidak ada tanda-tanda sianosis

Frekuensi nafas 12 - 24 x/mnt

SP O2 > 95

Intervensi :

kaji tanda-tanda distress nafas, bunyi, frekuensi, irama, kedalaman nafas.

monitor tanda-tanda hypoxia(agitsi,takhipnea, stupor,sianosis)

monitor hasil laboratorium, AGD, kadar oksihemoglobin, hasil oximetri nadi,

Kolaborasi dengan tim medis untuk pemasangan endotracheal tube atau tracheostomi tube bila diperlukan.

kola bolarasi dengan tim medis untuk pemasangan ventilator bila diperlukan.

kolaborasi dengan tim medis untuik pemberian inhalasi terapi bila diperlukan

Diagnosa Keperawatan 2 :

Tidak efektifnya pertukaran gas/oksigen b.d kerusakan jalan nafas

Tujuan :

Oksigenasi jaringan adekuat

Kriteria Hasil:

Tidak ada tanda-tanda sianosis

Frekuensi nafas 12 - 24 x/mnt

SP O2 > 95

Intervensi :

kaji tanda-tanda distress nafas, bunyi, frekuensi, irama, kedalaman nafas.

monitor tanda-tanda hypoxia(agitsi,takhipnea, stupor,sianosis)

monitor hasil laboratorium, AGD, kadar oksihemoglobin, hasil oximetri nadi,

Kolaborasi dengan tim medis untuk pemasangan endotracheal tube atau tracheostomi tube bila diperlukan.

kola bolarasi dengan tim medis untuk pemasangan ventilator bila diperlukan.

kolaborasi dengan tim medis untuik pemberian inhalasi terapi bila diperlukan

Diagnosa Keperawatan 3:

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d banyaknya penguapan/cairan tubuh yang keluar.

Tujuan :

Pemulihan cairan optimal dan keseimbangan elektrolit serta perfusi organ vital tercapai

Kriteria Hasil:

BP 100-140/60 -90 mmHg

Produksi urine >30 ml/jam (minimal 1 ml/kg BB/jam)

Ht 37-43 %

Turgor elastis

Mucosa lembab

Akral hangat

Rasa haus tidak ada

Intervensi :

Berikan banyak minum kalau kondisi lambung memungkinkan baik secara langsung maupun melalui NGT

Monitor dan catat intake, output (urine 0,5 - 1 cc/kg.bb/jam)

Beri cairan infus yang mengandung elektrolit (pada 24 jam ke I), sesuai dengan rumus formula yang dipakai

Monitor vital sign

Monitor kadar Hb, Ht, elektrolit, minimal setiap 12 jam.

Diagnosa Keperawatan 4 :

Nyeri b.d kerusakan kulit dan tindakan pencucian .

Tujuan :

Nyeri berkurang

Kriteria Hasil:

Skala 1-2

Expresi wajah tenang

Nadi 60-100 x/mnt

Klien tidak gelisah

Intervensi :

Kaji karakteristik nyeri

Atur posisi tidur senyaman mungkin

Anjurkan klien untuk teknik rileksasi

Lakukan prosedur pencucian luka dengan hati-hati

Anjurkan klien untuk mengekspresikan rasa nyeri yang dirasakan

Beri tahu klien tentang penyebab rasa sakit pada luka bakar

Kolaborasi dengan tinm medis untuik pemberian analgetik

Diagnosa Keperawatan 5:

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan metabolik(BMR)

Tujuan :

Intake nutrisi adekuat dengan mempertahankan 85-90% BB

Kriteria Hasil:

Intake kalori 1600 -2000 kkal

Intake protein +- 40 gr /hari

Makanan yang disajikan habis dimakan

Intervensi :

kaji sejauh mana kurangnya nutrisi

lakukan penimbangan berat badan klien setiap hari (bila mungkin)

pertahankan keseimbangan intake dan output

jelaskan kepada klien tentang pentingnya nutrisi sebagai penghasil kalori yang sangat dibutuhkan tubuh dalam kondisi luka bakar.

Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian nutrisi parenteral

Kolaborsi dengan tim ahli gizi untuk pemberian nutrisi yang adekuat.

Diagnosa Keperawatan 6:

Resiko tinggi infeksi b.d kerusakan integritas kulit

Tujuan :

Infeksi tidak terjadi

Kriteria Hasil:

Suhu 36 - 37 C

BP 100-140/60 -90 mmHg

Leukosit 5000 -10.000.ul

Tidak ada kemerahan, pembengkakan, dan kelainan fungsi

Intervensi :

Beritahu klien tentang tindakan yang akan dilakukan

Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan

Gunakan sarung tangan steril, masker, penutup kepala dan tehnik aseptic selama dalam perawatan

Kaji sampai dimana luas dan kedalaman luka klien, kalau memungkinkan beritahu klien tentang kondisinya

Kaji tanda-tanda infeksi (dolor, kolor, rubor, tumor dan fungsiolesa)

Lakukan ganti balutan dengan tehnik steril, gunakan obat luka (topical)yang sesuai dengan kondisi luka dan sesuai dengan program medis

Monitor vital sign

Petahankan personal hygiene

Diagnosa Keperawatan 7:

Gangguan mobilisasi b.d keruskan jaringan dan kontraktur

Tujuan :

Mobilitas fisik optimal

Kriteria Hasil:

OS mampu melakukan ROM aktif

Tidak ada tanda-tanda kontraktur daerah luka bakar

Kebutuhan sehari-hari terpenuhiA

Intervensi :

Kaji kemampuan ROM (Range Of Motion)

Ajarkan dan anjurkan klien untuk berlatih menggerakan persendian pada eksteremitas secara bertahap.

Beri support mental

Kolaborasi dengan tim fisioterapi

untuk program latihan selanjutnya

Diagnosa Keperawatan 8:

Cemas/takut b.d hospitalisasi/prosedur isolasi

Tujuan :

Rasa cemas/takut hilang dan klien dapat beradaptasi

Kriteria Hasil :

Klien terlihat tenang

Klien mengerti tentang prosedur perawatan luka bakar

Intervensi :

Kaji sejauh mana rasa/takut klien

Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya

Beri tahu klien tentang prosedur perawatan luka bakar

Jelaskan pada klien mengapa perlu dilakukan perawatan dengan prosedur isolasi

Beritahu keadaan lokasi tempat klien rawat

Diagnosa Keperawatan 9:

Gangguan body image b.d perubahan penampilan fisik

Tujuan :

Gangguan body image

Kriteria Hasil:

Daerah luka bakar dalam perbaikan

Klien dapat menerima kondisinya

Klien tenang

Intervensi :

Kaji sejauh mana rasa khawatir klien tentang akibat luka bakar

Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya

Lakukan prosedur perawatan yang tepat sehingga tidak terjadi komlikasi berupa cacat fisik

Beri support mental dan ajak keluarga dalam memberikan support

Diagnosa Keperawatan 10:

Kurang pengetahuan tentang kondisi luka bakar, prognosis dan perawatan luka bakar b.d kurangnya informasi

Tujuan :

Klien mengetahui tentang kondisi luka bakar, prognosisi dan perawatan luka bakar

Kriteria Hasil :

Klien terlihat tenang

Klien mengerti tentang kondisinya

Intervensi :

Kaji sejauh mana pengetahuan klien tentang kondisi, prognosis dan harapan masa depan

Diskusikan harapan klien untuk kembali kerumah, bekerja dan kembali melakukan aktifitras secara normal

Anjurkan klien untuk menentukan program latihan dan waktu untuk istirahat Beri kesempatan pada klien untuk bertanya mengenai hal-hal yang tidak diketahuinya.

Sumber:

blog Asuhan-keperawatan

ww.info-sehat.com

www.lukabakar.net

No comments:

Post a Comment