APPENDICITIS
Pengertian
Appendicitis merupakan inflamasi apendiks, suatu bagian seperti kantung yang non fungsional dan terletak di bagian inferior sekum. Penyebab paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh feses, yang akhimya merusak suplai darah dan merobek mukosa yang menyebabkan inflamasi (Wilson & Goldman, 1989).
Patofisiologi
Bila apendiks tersumbat, tekanan intraluminal meningkat, menimbulkan penurunan drainase vena, trombosis, edema, dan invasi bakteri dinding usus. Bila obstruksi berlanjut, apendiks menjadi semakin hiperemik, hangat, dan tertutup eksudat yang seterusnya menjadi gangren dan perforasi.
Komplikasi
Komplikasi utama berhubungan dengan apendisitis adalah peritonitis, yang dapat terjadi bila apendiks ruptur.
Bila terjadi perforasi klien memerlukan antibiotik dan bedah drainase.
Penatalaksanaan
Apendektomi (pembuangan apendiks) adalah satu-satunya tindakan. Tidak ada penatalaksanaan medikal terhadap apendisifis. Sampai pembedahan dapat dilakukan, cairan intravena dan antibiotik diberikan.
Intervensi bedah meliputi pengangkatan apendiks (apendektomi) dalam 24 sampai 48 jam awitan manifestasi. Pembedahan dapat dilakukan melalui insisi kecil atau laparoskopis. Bila operasi dilakukan pada waktunya, laJu mortalitas kurang dari 0,5%. Penundaan selalu menyebabkan ruptur organ dan akhimya peritonitis. Pembedahan sering ditunda, namun karena diagnosis sulit dibuat dan klien sering mencari bantuan medis tetapi terlambat.
Klien lansia mungkin menunjukkan manifestasi yang sangat sedikit dan tidak mendari bantuan sampai terjadi perforasi yang telah sembuh.
Diagnosa Banding
Diagnosis juga mungkin sulit pada anak kecil. Banyak penyakit yang menyerupai apendisitis:
- Adenitis mesenterik
- Kista ovarii
- Kolelitiasis
- Batu ginjal atau uretral
- Divertikulitis
- Divertikulum Meckel
DIAGNOSA KEPERAWATAN 1 :
Risiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer (risiko terhadap ruptur, peritonitis, dan pembentukan abses) sekunder akibat proses inflamasi.
Tujuan
Pasien bebas dari infeksi
Kriteria Hasil
Tanda vital dalam batas normal ; normotermia, HR 80 - 100 X/mt, TD =100/60 - 120/80 mm Hg, RR 16-20 X/mt dengan pola dan kedalaman normal (eupnea);
Abdomen lunak dan tak distensi;
bising usus 5-34/mnt pada setiap kuadran abdomen.
Setelah instruksi, pasien mengungkapkan rasional untuk tidak memberikan enema atau laksatif praoperasi dan enema pascaoperasi dan memenuhi pembatasan terapeutik.
INTERVENSI KEPERAWATAN:
1. Kaji dan dokumentasikan kualitas, lokasi, dan durasi nyeri. Waspada terhadap nyeri yang menonjol dan umum atau terhadap berulangnya muntah, dan perhatikan apakah pasien melakukan posisi miring atau telentang dengan lutut fleksi. Adanya tanda ini menandakan memburuknya apendisitis, yang dapat mengarah pada ruptur. Waspada terhadap nyeri yang memburuk dan kemudian menghilang-menandakan bahwa ruptur telah terjadi.
1. Pantau TV terhadap peningkatan suhu, peningkatan frekuensi nadi, hipotensi, dan pernapasan dangkal/cepat; kaji abdomen terhadap kekakuan, distensi, dan penurunan atau tidak adanya bising usus, salah satu ini dapat terjadi pada ruptur. Konsul dokter tentang temuan bermakna.
1. Waspadakan pasien tentang bahaya tindakan sendiri praoperasi dengan enema dan laksatif karena ini dapat meningkatkan peristaltik, yang meningkatkan risiko perforasi. Bila konstipasi terjadi pascaoperasi, dokter dapat memberikan laksatif/pelunak feses setiap jam setelah hari ketiga. Ingatkan pasien bahwa enema harus dihindari sampai diizinkan oleh dokter (biasanya beberapa minggu setelah pembedahan)
1. Ajarkan pasien tentang perawatan insisi pascaoperasi, serta perawatan drein bila pasien dipulangkan dengan alat ini.
1. Berikan instruksi tentang antibiotik yang diresepkan bila pasien dipulangkan dengan obat ini.
DIAGNOSA KEPERAWATAN 2 :
Nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan
Dalam 1-2 jam intervensi penghilangan nyeri, persepsi subjektif pasien tentang nyeri menurun,
Kriteria hasil
skala nyeri. Indikator-indikator objektif, seperti meringis (tidak ada atau menurun).
INTERVENSI KEPERAWATAN:
1. Kaji dan dokumentasikan kualitas, lokasi, dan durasi nyeri, gunakan skala nyeri dengan pasien, rentangkan ketidaknyamanan dari 0 (tidak ada nyefi) sampai 0 (nyeri paling buruk). Waspada tentang karakteristik ketidaknyamanan selama tahap-tahap berikut dari apendisitis:
- Tahap awal: Nyefi abdomen (baik epigastrik atau umbilikal) yang mungkin tidakjelas atau menyebar; mual dan muntah; demam; sensitivitas di atas area apendiks.
- Tahap intermediet (akut): Nyeri yang berpindah dari epigastrium ke kuadran kanan bawah (KKB) pada titik McBurney (kira-kira 2 inci dari spina iliaka superior anterior pada garis gambar dari umbilikus) dan yang meningkat dengan berjalan atau batuk. Nyeri dapat disertai dengan sensasi konstipasi (sensasi “gas berhenti”). Anoreksia, malaise, kadang-kadang diare, dan penurunan peristaltik juga dapat terjadi.
- Apendisitis akut dengan perforasi: Peningkatan nyeri umum; berulangnya muntah; peningkatan kekakuan abdomen.
1. Obati pasien dengan antiemetik, sedatif, dan analgesik sesuai program; evaluasi dan dokumentasikan respons pasien, dengan menggunakan skala nyeri.
1. Pertahankan pasien puasa sebelum pembedahan; setelah pembedahan, mual dan muntah biasanya hilang. Bila diprogramkan, pasang selang gastrik untuk dekompresi.
1. Ajarkan teknik untuk pernapasan diafragmatik lambat untuk menurunkan stres dan membantu rilaks otot yang tegang.
1. Bantu posisi pasien untuk kenyamanan optimal. Beberapa pasien menemukan kenyamanan pada posisi miring dengan lutut ditekuk, sedangkan yang lain merasa hilang bila telentang dengan bantal di bawah lutut. Hindari tekanan pada area popliteal. Lihat diagnosa dan intervensi keperawatan pada Perawatan Pasien Praoperasi dan Pascaopearsi.
Sunday, March 8, 2009
ASKEP ANGINA PEKTORIS
ASKEP ANGINA PEKTORIS
1. PENGERTIAN
Yaitu serangan nyeri substernal, retrosternal yang biasa berlangsung beberapa menit
setelah gerak badan dan menjalar ke bagian lain dari badan dan hilang setelah istirahat.
2. ETIOLOGI
a. Arterosklerosis.
b. Aorta insufisiensi
c. Spasmus arteri koroner
d. Anemi berat.
3. PATOFISIOLOGI
Angina pectoris merupakan sindrom klinis yang disebabkan oleh aliran darah ke arteri
miokard berkurang sehingga ketidakseimbangan terjadi antara suplay O2 ke miokardium
yang dapat menimbulkan iskemia, yang dapat menimbulkan nyeri yang kemungkinan akibat
dari perubahan metabolisme aerobik menjadi anaerob yang menghasilkan asam laktat yang
merangsang timbulnya nyeri.
4. MACAM-MACAM ANGINA PEKTORIS
a. Angina pectoris stabil.
- Sakit dada timbul setelah melakukan aktivitas.
- Lamanya serangan biasanya kurang dari 10 menit.
- Bersifat stabil tidak ada perubahan serangan dalam angina selama 30 hari.
- Pada phisical assessment tidak selalu membantu dalam menegakkan diagnosa.
b. Angina pectoris tidak stabil.
- Angina yang baru pertama kali atau angina stabil dengan karakteristik frekuensi berat
dan lamanya meningkat.
- Timbul waktu istirahat/kerja ringan.
- Fisical assessment tidak membantu.
- EKG: Deviasi segment ST depresi atau elevasi.
Angina yang terjadi spontan umumnya waktu istirahat dan pada waktu aktifitas
ringan. Biasanya terjadi karena spasme arteri koroner EKG deviasi segment ST depresi
atau elevasi yang timbul pada waktu serangan yang kemudian normal setelah serangan
selesai.
5. FAKTOR PENCETUS
- Exposure to cold.
- Eating.
- Emotional stress.
- Exertional (gerak badan yang kurang).
- Merokok.
6. PENGKAJIAN
Data spesifik yang berhubungan dengan nyeri yaitu:
a. Letak.
Nyeri dada, sternal/sub esternal pada dada sebelah kiri menjalar ke leher, rahang, lengan
kiri, lengan kanan, punggung. Nyeri dapat timbul pada epigastrium, gigi dan bahu.
b. Kualitas nyeri.
Nyeri seperti mencekik atau rasa berat dalam dada terasa seperti di tekan benda berat.
c. Lamanya serangan.
Rasa nyeri singkat 1-5 menit atau lebih dari 20 menit berarti infark.
d. Gejala yang menyertai.
Gelisah, mual, diaporesis kadang-kadang.
e. Hubungan dengan aktivitas.
Timbul saat aktivitas, hilang bila aktivitas dihentikan/istirahat.
Data lain yang dijumpai:
a. Perilaku pasien.
Perhatikan terjadinya diaphoresis, orang dengan angina kadang terlihat memegang
sternum pada waktu serangan.
b. Perubahan gejala vital.
c. Perubahan cardiac.
d. Pola serangan angina.
7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Elektro Kardio Gram.
b. Holter Monitor.
c. Angiografi Curone.
d. Stres Testing.
e. Foto Rontgen Dada.
f. Pemeriksaan Laboratorium.
Yang sering dilakukan pemeriksaan enzim; CPK, SGOT atau LDH. Enzim tersebut
akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih normal.
Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol LDH dan LDL. Trigliserida perlu
dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti hyperlipidemia dan pemeriksaan gula
darah perlu dilakukan untuk menemukan diabetes mellitus yang juga merupakan faktor
resiko bagi pasien angina pectoris.
8. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan:
- Menurunnya aliran darah otot jantung.
- Meningkatnya beban kerja jantung.
Tujuan: - Klien mengungkapkan perasaan nyaman atau bebas dari nyeri atau
- Klien melaporkan serangan nyeri dada menurun.
Intervensi dan rasional
1.) Anjurkan pasien untuk memberitahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri dada.
Rasional: Nyeri dan penurunan curah jantung yang merangsang system saraf
simpatis untuk mengeluarkan sejumlah besar norefinefrin, yang
meningkatkan agregasi trombosit dan mengeluarkan tromboxane poten
pada yang menyebabkan spasme arteri koroner yang dapat mencetus,
mengakplikasi atau memperlama serangan angina memanjang. Nyeri tak
bisa ditahan menyebabkan respon vaso vegal, menurunkan tekanan darah
dan frekuensi jantung.
2.) Kaji dan catat respon pasien dan efek obat.
Rasional: Memberikan informasi tentang kemajuan penyakit dan sebagai alat dalam
evaluasi keefektifan intervensi dan dapat menunjukkan kebutuhan
perubahan program pengobatan.
3.) Identifikasi terjadinya pencetus, bila ada: frekuensi durasinya, intensitasnya dan
lokasi nyeri.
Rasional: Membantu membedakan nyeri dada dini dan alat dalam evaluasi
kemungkinan menjadi angina tidak stabil (angina stabil) biasanya berakhir
3 – 5 menit sementara angina tidak stabil lebih lama dan dapat berakhir
lebih dari 45 menit.
4.) Observasi gejala yang berhubungan, misalnya dispnea, mual, muntah, pusing,
palpitasi, keinginan berkemih.
Rasional: Penurunan curah jantung (yang terjadi selama episode iskemia miokard)
merangsang system saraf simpatis/parasimpatis, menyebabkan berbagai
rasa sakit/sensasi dimana pasien tidak dapat mengidentifikasi apakah
berhubungan dengan episode angina.
5.) Evaluasi laporan nyeri pada rahang, leher, bahu, tangan atau lengan (khususnya pada
sisi kiri).
Rasional: Nyeri jantung dapat menyebar, contoh nyeri sering lebih ke permukaan
dipersarafi oleh tingkat saraf spinal yang sama.
6.) Letakkan pasien pada istirahat total selama episode angina.
Rasional: Menurunkan kebutuhan oksigen miokard untuk meminimalkan resiko
cedera jaringan/nekrosis.
7.) Tinggikan kepala tempat tidur bila pasien napas pendek.
Rasional: Memudahkan pertukaran gas untuk menurunkan hipoksia dan nafas
pendek berulang.
8.) Pantau kecepatan/irama jantung.
Rasional: Pasien angina tidak stabil mengalami peningkatan disaritmia yang
mengancam hidup secara akut, yang terjadi pada respon terhadap iskemia
atau stress.
9.) Pantau tanda vital tiap 5 menit selama serangan angina.
Rasional: Tekanan darah dapat meningkat secara dini sehubungan dengan
rangsangan simpatis, kemudian turun bila curah jantung dipengaruhi.
Tachicardia juga terjadi pada respon terhadap rangsangan simpatis dan
dapat berlanjut sebagai kompensasi bila curah jantung menurun.
10.) Temani klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.
Rasional: Cemas mengeluarkan kotekolamin yang meningkatkan kerja miokard dan
dapat memanjangkan nyeri iskemi, dan adanya perawat dapat menurunkan
rasa takut dan ketidakberdayaan..
11.) Pertahankan lingkungan yang nyaman, batasi pengunjung.
Rasional: Stress kerja.emosi meningkatkan kerja miokard.
12.) Berikan makanan lunak, biarkan pasien istirahat selama 1 jam setelah makan.
Rasional: Menurunkan kerja miokard sehubungan dengan kerja pencernaan,
menurunkan resiko serangan angina.
Kolaborasi
1.) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional: meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard/ mencegah
iskemia.
2.) Berikan anti angina sesuai indikasi misalnya (nitrogliserin; sublingual nitrosat, bukal
atau tablet oral; sprei sublingual).
Rasional: Nitrogliserin mempunyai standar untuk pengobatan dan pencegah nyeri
angina selama lebih dari 100 tahun. kini masih digunakan therapy anti
angina cornerstone. Efek cepat vasodilalator berakhir 10-30 menit dan
dapat digunakan secara profilaksis untuk mencegah serangan angina.
3.) Berikan morfin sulfat.
Rasional: Analgesik narkotik poten yang telah banyak memberi efek
menguntungkan, seperti menyebabkan vasodilatasi perifer dan
menurunkan kerja miokard, dan mempunyai efek sedativ untuk
menghasilkan relaksasi, menghentikan aliran kotekolamin, vasokontruksi
dan selanjutnya efektif menghilangkan nyeri dan berat. Morfin Sulfat
diberikan IV untuk kerja cepat dan penutunan curah jantung
mempengaruhi absorbsi jaringan perifer.
4.) Pantau perubahan seri EKG.
Rasional: Iskemia selama serangan angina dapat menyebabkan depresi segmen ST
atau peninggian dan inversi gelombang T. seri gambaran perubahan
iskemia yang hilang bila pasien bebas nyeri dan juga dasar yang
membandingkan pola perubahan selanjutnya.
b. Menurunnya cardiac out put berhubungan dengan iscemic jantung yang lama.
Tujuan: - Klien akan melaporkan serangan dispnoe angina dan aritmia.
Intervensi:
1.) Pantau tanda-tanda vital.
Rasional: Takikardi dapat terjadi karena nyeri, cemas, hipoksemia, dan menurunnya
curah jantung. Perubahan juga terjadi karena (hipertensi atau hipotensi)
karena respon jantung.
2.) Evaluasi status mental, catat terjadinya bingung dan disorientasi.
Rasional: Menurunkan perfusi otak dapat menghasilkan perubahan sensorium.
3.) Catat warna kulit dan adanya kualitas nadi.
Rasional: Sirkulasi perifer menurun bila curah jantung turun membuat kulit pucat
atau warna abu-abu (tergantung tingkat hipoksia) dan menurunnya
kekuatan nadi perifer.
4.) Auskultasi bunyi napas dan bunyi jantung. Dengarkan murmur.
Rasional: S3, S4 atau krekels terjadi dengan kompensasi jantung atau beberapa obat
(khususnya penyekat beta). Terjadinya murmur dapat menunjukkan katup
nyeri dada contoh stenosis serta, stenosis mitral, atau ruptur otot papiliar .
5.) Pertahankan episode (tirah baring) pada posisi nyaman selama episode akut.
Rasional: Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan menurunkan kerja miokard dan
resiko dekompensasi.
6.) Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam melakukan aktivitas perawatan diri,
sesuai indikasi.
Rasional: Penghematan energi menurunkan kerja jantung.
7.) Tekankan pentingnya menghindari regangan/angkat berat khususnya selama defekasi.
Rasional: Manuver Valvasa menyebabkan rangsangan vagal, menurunkan frekuensi
jantung (bradikardi) yang diikuti oleh tachicardi keduanya mungkin
mengganggu curah jantung..
8.) Dorong pelaporan cepat adanya nyeri untuk upaya pengobatan sesuai indikasi.
Rasional: Intervensi sesuai waktu menurunkan konsumsi oksigen dan kerja jantung
dan mencegah meminimalkan komplikasi jantung.
Kolaborasi
1.) Berikan oksigen tambahan sesuai kebutuhan.
Rasional: Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard adalah
memperbaiki kontraktilitas, menurunkan iskemia dan kadar asam laktat.
2.) Siapkan untuk pindah ke unit perawatan kritis bila kondisi memerlukannya.
Rasional: Nyeri dada dini/memanjang dengan penurunan curah jantung
menunjukkan terjadinya komplikasi yang memerlukan intervensi terusmenurus/
darurat.
c. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan.
Tujuan: - Klien akan mengungkapkan kesadaran atau perasaannya cara hidup wajar.
Intervensi:
1.) Jelaskan tujuan tes dan prosedur, contoh tes stress.
Rasional: Menurunkan cemas dan takut terhadap diagnosa dan prognosis.
2.) Bantu klien mengekspresikan perasaannya.
Rasional: Perasaan tidak diekspresikan dapat meminimalkan kekacauan internal dan
efek gambaran lain.
3.) Dorong klien dan teman untuk menganggap pasien seperti sebelumnya.
Rasional: Meyakinkan pasien bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak berubah.
Kolaborasi:
1.) Berikan sedativa
Rasional: Mungkin duperlukan untuk membantu pasien rileks sampai secara fisik
mampu untuk membuat strategi koping adkuat.
d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan informasi tidak akurat kesalahan interpretasi.
Tujuan: - Berpartisipasi dalam proses belajar.
- Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan.
- Melakukan perubahan pola hidup.
Intervensi:
1.) Kaji ulang patofisiologi kondisi, tekanan perlunya mencegah serangan angina.
Rasional: Pasien dengan angina membutuhkan belajar mengapa hal itu terjadi dan
apakah dikontrol, ini adalah focus manajemen teraupetik supaya
menurunkan infark miokard.
2.) Dorong untuk menghindari faktor pencetus, seperti stress, maka terlalu banyak, kerja
fisik atau berpanjang pada suhu lingkungan ekstrem.
Rasional: Dapat menurunkan insiden beratnya episode iskemik.
3.) Bantu pasien orang terdekat untuk mengidentifikasi sumber fisik dan stress emosi dan
diskusikan cara yang dapat mereka hindari.
Rasional: Langkah penting pembatasan/mencegah serangan angina.
4.) Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan merokok, perubahan diet, dan
olah raga.
Rasional: Pengetahuan faktor resiko penting memberikan kesempatan untuk
membuat perubahan kebutuhan.
5.) Dorong pasien untuk mengikuti program yang ditentukan pecegahan untuk
menghindari kelelahan.
Rasional: Takut terhadap pencetus serangan dapat menyebabkan pasien menghindari
partisipasi pada aktivitas yang telah dibuat untuk meningkatkan perbaikan
(meningkatkan kekuatan miokard dan membentuk sirkulasi kolateral).
6.) Diskusikan dampak penyakit sesuai pola hidup yang diinginkan dan aktivitas
termasuk kerja, menyetri, aktivitas seksual dan hobby.
Rasional: Pasien enggan melakukan/melanjutkan aktivitas biasanya karena takut
serangan angina/kematian. Pasien harus menggunakan nitrogliserin secara
profilaktin. Sebelum beraktivitas yang diketahui sebagai pencetus angina.
7.) Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina, contoh menghentikan
aktivitas, pemberian obat bila perlu, penggunaan tehnik relaksasi.
Rasional: Menyiapkan pasien pada kejadian untuk menghilangkan takut yang
mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan bila terjadi serangan.
8.) Kaji ulang obat yang diresepkan untuk mengontrol serangan mencegah serangan
angina.
Rasional: Angina adalah kondisi yang sering memerlukan penggunaan banyak obat
untuk menurunkan kerja jantung, memperbaiki sirkulasi koroner, dan
mengontrol terjadinya serangan.
9.) Tekankan pentingnya mengecek dengan dokter kapan menggunakan obat yang dijual
bebas.
Rasional: Obat yang dijual bebas mempunyai potensi penyimpanan.
10.) Kaji ulang gejala yang dilaporkan pada dokter.
Rasional: Pengetahuan apa yang akan terjadi dapat menghindari masalah yang tak
perlu terjadi untuk alasan yang tidak penting.
11.) Diskusikan pentingnya mengikuti perjanjian.
Rasional: Angina adalah gejala penyakit arteri koroner progresif yang harus
dipantau dan memerlukan keputusan program pengobatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Asuhan Keperawatan Cardiovaskuler.
2. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi Ke Tiga, Penerbit Balai Pustaka FKUI,
Jakarta 1996.
3. Kapita Selekta Kedokteran, edisi Kedua Editor Junaedi Purnawan dan Kawan-Kawan,
Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, 1982.
4. Ely Ismudianti Rilantono dkk, Buku Ajar Kardiologi, Balai Penerbit FKUI, 1998.
5. Makalah Askep Pada Pasien Angina Pektoris, Akademi Keperawatan Depkes RI Tidung
Makassar.
6. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And Documenting Patient Care, edisi
ketiga, Alih Bahasa: I Made Kariasa, SKp. Dan Ni Made Sumarwati, SKp.
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000.
1. PENGERTIAN
Yaitu serangan nyeri substernal, retrosternal yang biasa berlangsung beberapa menit
setelah gerak badan dan menjalar ke bagian lain dari badan dan hilang setelah istirahat.
2. ETIOLOGI
a. Arterosklerosis.
b. Aorta insufisiensi
c. Spasmus arteri koroner
d. Anemi berat.
3. PATOFISIOLOGI
Angina pectoris merupakan sindrom klinis yang disebabkan oleh aliran darah ke arteri
miokard berkurang sehingga ketidakseimbangan terjadi antara suplay O2 ke miokardium
yang dapat menimbulkan iskemia, yang dapat menimbulkan nyeri yang kemungkinan akibat
dari perubahan metabolisme aerobik menjadi anaerob yang menghasilkan asam laktat yang
merangsang timbulnya nyeri.
4. MACAM-MACAM ANGINA PEKTORIS
a. Angina pectoris stabil.
- Sakit dada timbul setelah melakukan aktivitas.
- Lamanya serangan biasanya kurang dari 10 menit.
- Bersifat stabil tidak ada perubahan serangan dalam angina selama 30 hari.
- Pada phisical assessment tidak selalu membantu dalam menegakkan diagnosa.
b. Angina pectoris tidak stabil.
- Angina yang baru pertama kali atau angina stabil dengan karakteristik frekuensi berat
dan lamanya meningkat.
- Timbul waktu istirahat/kerja ringan.
- Fisical assessment tidak membantu.
- EKG: Deviasi segment ST depresi atau elevasi.
Angina yang terjadi spontan umumnya waktu istirahat dan pada waktu aktifitas
ringan. Biasanya terjadi karena spasme arteri koroner EKG deviasi segment ST depresi
atau elevasi yang timbul pada waktu serangan yang kemudian normal setelah serangan
selesai.
5. FAKTOR PENCETUS
- Exposure to cold.
- Eating.
- Emotional stress.
- Exertional (gerak badan yang kurang).
- Merokok.
6. PENGKAJIAN
Data spesifik yang berhubungan dengan nyeri yaitu:
a. Letak.
Nyeri dada, sternal/sub esternal pada dada sebelah kiri menjalar ke leher, rahang, lengan
kiri, lengan kanan, punggung. Nyeri dapat timbul pada epigastrium, gigi dan bahu.
b. Kualitas nyeri.
Nyeri seperti mencekik atau rasa berat dalam dada terasa seperti di tekan benda berat.
c. Lamanya serangan.
Rasa nyeri singkat 1-5 menit atau lebih dari 20 menit berarti infark.
d. Gejala yang menyertai.
Gelisah, mual, diaporesis kadang-kadang.
e. Hubungan dengan aktivitas.
Timbul saat aktivitas, hilang bila aktivitas dihentikan/istirahat.
Data lain yang dijumpai:
a. Perilaku pasien.
Perhatikan terjadinya diaphoresis, orang dengan angina kadang terlihat memegang
sternum pada waktu serangan.
b. Perubahan gejala vital.
c. Perubahan cardiac.
d. Pola serangan angina.
7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Elektro Kardio Gram.
b. Holter Monitor.
c. Angiografi Curone.
d. Stres Testing.
e. Foto Rontgen Dada.
f. Pemeriksaan Laboratorium.
Yang sering dilakukan pemeriksaan enzim; CPK, SGOT atau LDH. Enzim tersebut
akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih normal.
Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol LDH dan LDL. Trigliserida perlu
dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti hyperlipidemia dan pemeriksaan gula
darah perlu dilakukan untuk menemukan diabetes mellitus yang juga merupakan faktor
resiko bagi pasien angina pectoris.
8. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan:
- Menurunnya aliran darah otot jantung.
- Meningkatnya beban kerja jantung.
Tujuan: - Klien mengungkapkan perasaan nyaman atau bebas dari nyeri atau
- Klien melaporkan serangan nyeri dada menurun.
Intervensi dan rasional
1.) Anjurkan pasien untuk memberitahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri dada.
Rasional: Nyeri dan penurunan curah jantung yang merangsang system saraf
simpatis untuk mengeluarkan sejumlah besar norefinefrin, yang
meningkatkan agregasi trombosit dan mengeluarkan tromboxane poten
pada yang menyebabkan spasme arteri koroner yang dapat mencetus,
mengakplikasi atau memperlama serangan angina memanjang. Nyeri tak
bisa ditahan menyebabkan respon vaso vegal, menurunkan tekanan darah
dan frekuensi jantung.
2.) Kaji dan catat respon pasien dan efek obat.
Rasional: Memberikan informasi tentang kemajuan penyakit dan sebagai alat dalam
evaluasi keefektifan intervensi dan dapat menunjukkan kebutuhan
perubahan program pengobatan.
3.) Identifikasi terjadinya pencetus, bila ada: frekuensi durasinya, intensitasnya dan
lokasi nyeri.
Rasional: Membantu membedakan nyeri dada dini dan alat dalam evaluasi
kemungkinan menjadi angina tidak stabil (angina stabil) biasanya berakhir
3 – 5 menit sementara angina tidak stabil lebih lama dan dapat berakhir
lebih dari 45 menit.
4.) Observasi gejala yang berhubungan, misalnya dispnea, mual, muntah, pusing,
palpitasi, keinginan berkemih.
Rasional: Penurunan curah jantung (yang terjadi selama episode iskemia miokard)
merangsang system saraf simpatis/parasimpatis, menyebabkan berbagai
rasa sakit/sensasi dimana pasien tidak dapat mengidentifikasi apakah
berhubungan dengan episode angina.
5.) Evaluasi laporan nyeri pada rahang, leher, bahu, tangan atau lengan (khususnya pada
sisi kiri).
Rasional: Nyeri jantung dapat menyebar, contoh nyeri sering lebih ke permukaan
dipersarafi oleh tingkat saraf spinal yang sama.
6.) Letakkan pasien pada istirahat total selama episode angina.
Rasional: Menurunkan kebutuhan oksigen miokard untuk meminimalkan resiko
cedera jaringan/nekrosis.
7.) Tinggikan kepala tempat tidur bila pasien napas pendek.
Rasional: Memudahkan pertukaran gas untuk menurunkan hipoksia dan nafas
pendek berulang.
8.) Pantau kecepatan/irama jantung.
Rasional: Pasien angina tidak stabil mengalami peningkatan disaritmia yang
mengancam hidup secara akut, yang terjadi pada respon terhadap iskemia
atau stress.
9.) Pantau tanda vital tiap 5 menit selama serangan angina.
Rasional: Tekanan darah dapat meningkat secara dini sehubungan dengan
rangsangan simpatis, kemudian turun bila curah jantung dipengaruhi.
Tachicardia juga terjadi pada respon terhadap rangsangan simpatis dan
dapat berlanjut sebagai kompensasi bila curah jantung menurun.
10.) Temani klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.
Rasional: Cemas mengeluarkan kotekolamin yang meningkatkan kerja miokard dan
dapat memanjangkan nyeri iskemi, dan adanya perawat dapat menurunkan
rasa takut dan ketidakberdayaan..
11.) Pertahankan lingkungan yang nyaman, batasi pengunjung.
Rasional: Stress kerja.emosi meningkatkan kerja miokard.
12.) Berikan makanan lunak, biarkan pasien istirahat selama 1 jam setelah makan.
Rasional: Menurunkan kerja miokard sehubungan dengan kerja pencernaan,
menurunkan resiko serangan angina.
Kolaborasi
1.) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional: meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard/ mencegah
iskemia.
2.) Berikan anti angina sesuai indikasi misalnya (nitrogliserin; sublingual nitrosat, bukal
atau tablet oral; sprei sublingual).
Rasional: Nitrogliserin mempunyai standar untuk pengobatan dan pencegah nyeri
angina selama lebih dari 100 tahun. kini masih digunakan therapy anti
angina cornerstone. Efek cepat vasodilalator berakhir 10-30 menit dan
dapat digunakan secara profilaksis untuk mencegah serangan angina.
3.) Berikan morfin sulfat.
Rasional: Analgesik narkotik poten yang telah banyak memberi efek
menguntungkan, seperti menyebabkan vasodilatasi perifer dan
menurunkan kerja miokard, dan mempunyai efek sedativ untuk
menghasilkan relaksasi, menghentikan aliran kotekolamin, vasokontruksi
dan selanjutnya efektif menghilangkan nyeri dan berat. Morfin Sulfat
diberikan IV untuk kerja cepat dan penutunan curah jantung
mempengaruhi absorbsi jaringan perifer.
4.) Pantau perubahan seri EKG.
Rasional: Iskemia selama serangan angina dapat menyebabkan depresi segmen ST
atau peninggian dan inversi gelombang T. seri gambaran perubahan
iskemia yang hilang bila pasien bebas nyeri dan juga dasar yang
membandingkan pola perubahan selanjutnya.
b. Menurunnya cardiac out put berhubungan dengan iscemic jantung yang lama.
Tujuan: - Klien akan melaporkan serangan dispnoe angina dan aritmia.
Intervensi:
1.) Pantau tanda-tanda vital.
Rasional: Takikardi dapat terjadi karena nyeri, cemas, hipoksemia, dan menurunnya
curah jantung. Perubahan juga terjadi karena (hipertensi atau hipotensi)
karena respon jantung.
2.) Evaluasi status mental, catat terjadinya bingung dan disorientasi.
Rasional: Menurunkan perfusi otak dapat menghasilkan perubahan sensorium.
3.) Catat warna kulit dan adanya kualitas nadi.
Rasional: Sirkulasi perifer menurun bila curah jantung turun membuat kulit pucat
atau warna abu-abu (tergantung tingkat hipoksia) dan menurunnya
kekuatan nadi perifer.
4.) Auskultasi bunyi napas dan bunyi jantung. Dengarkan murmur.
Rasional: S3, S4 atau krekels terjadi dengan kompensasi jantung atau beberapa obat
(khususnya penyekat beta). Terjadinya murmur dapat menunjukkan katup
nyeri dada contoh stenosis serta, stenosis mitral, atau ruptur otot papiliar .
5.) Pertahankan episode (tirah baring) pada posisi nyaman selama episode akut.
Rasional: Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan menurunkan kerja miokard dan
resiko dekompensasi.
6.) Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam melakukan aktivitas perawatan diri,
sesuai indikasi.
Rasional: Penghematan energi menurunkan kerja jantung.
7.) Tekankan pentingnya menghindari regangan/angkat berat khususnya selama defekasi.
Rasional: Manuver Valvasa menyebabkan rangsangan vagal, menurunkan frekuensi
jantung (bradikardi) yang diikuti oleh tachicardi keduanya mungkin
mengganggu curah jantung..
8.) Dorong pelaporan cepat adanya nyeri untuk upaya pengobatan sesuai indikasi.
Rasional: Intervensi sesuai waktu menurunkan konsumsi oksigen dan kerja jantung
dan mencegah meminimalkan komplikasi jantung.
Kolaborasi
1.) Berikan oksigen tambahan sesuai kebutuhan.
Rasional: Meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard adalah
memperbaiki kontraktilitas, menurunkan iskemia dan kadar asam laktat.
2.) Siapkan untuk pindah ke unit perawatan kritis bila kondisi memerlukannya.
Rasional: Nyeri dada dini/memanjang dengan penurunan curah jantung
menunjukkan terjadinya komplikasi yang memerlukan intervensi terusmenurus/
darurat.
c. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan.
Tujuan: - Klien akan mengungkapkan kesadaran atau perasaannya cara hidup wajar.
Intervensi:
1.) Jelaskan tujuan tes dan prosedur, contoh tes stress.
Rasional: Menurunkan cemas dan takut terhadap diagnosa dan prognosis.
2.) Bantu klien mengekspresikan perasaannya.
Rasional: Perasaan tidak diekspresikan dapat meminimalkan kekacauan internal dan
efek gambaran lain.
3.) Dorong klien dan teman untuk menganggap pasien seperti sebelumnya.
Rasional: Meyakinkan pasien bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak berubah.
Kolaborasi:
1.) Berikan sedativa
Rasional: Mungkin duperlukan untuk membantu pasien rileks sampai secara fisik
mampu untuk membuat strategi koping adkuat.
d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan informasi tidak akurat kesalahan interpretasi.
Tujuan: - Berpartisipasi dalam proses belajar.
- Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan.
- Melakukan perubahan pola hidup.
Intervensi:
1.) Kaji ulang patofisiologi kondisi, tekanan perlunya mencegah serangan angina.
Rasional: Pasien dengan angina membutuhkan belajar mengapa hal itu terjadi dan
apakah dikontrol, ini adalah focus manajemen teraupetik supaya
menurunkan infark miokard.
2.) Dorong untuk menghindari faktor pencetus, seperti stress, maka terlalu banyak, kerja
fisik atau berpanjang pada suhu lingkungan ekstrem.
Rasional: Dapat menurunkan insiden beratnya episode iskemik.
3.) Bantu pasien orang terdekat untuk mengidentifikasi sumber fisik dan stress emosi dan
diskusikan cara yang dapat mereka hindari.
Rasional: Langkah penting pembatasan/mencegah serangan angina.
4.) Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan merokok, perubahan diet, dan
olah raga.
Rasional: Pengetahuan faktor resiko penting memberikan kesempatan untuk
membuat perubahan kebutuhan.
5.) Dorong pasien untuk mengikuti program yang ditentukan pecegahan untuk
menghindari kelelahan.
Rasional: Takut terhadap pencetus serangan dapat menyebabkan pasien menghindari
partisipasi pada aktivitas yang telah dibuat untuk meningkatkan perbaikan
(meningkatkan kekuatan miokard dan membentuk sirkulasi kolateral).
6.) Diskusikan dampak penyakit sesuai pola hidup yang diinginkan dan aktivitas
termasuk kerja, menyetri, aktivitas seksual dan hobby.
Rasional: Pasien enggan melakukan/melanjutkan aktivitas biasanya karena takut
serangan angina/kematian. Pasien harus menggunakan nitrogliserin secara
profilaktin. Sebelum beraktivitas yang diketahui sebagai pencetus angina.
7.) Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina, contoh menghentikan
aktivitas, pemberian obat bila perlu, penggunaan tehnik relaksasi.
Rasional: Menyiapkan pasien pada kejadian untuk menghilangkan takut yang
mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan bila terjadi serangan.
8.) Kaji ulang obat yang diresepkan untuk mengontrol serangan mencegah serangan
angina.
Rasional: Angina adalah kondisi yang sering memerlukan penggunaan banyak obat
untuk menurunkan kerja jantung, memperbaiki sirkulasi koroner, dan
mengontrol terjadinya serangan.
9.) Tekankan pentingnya mengecek dengan dokter kapan menggunakan obat yang dijual
bebas.
Rasional: Obat yang dijual bebas mempunyai potensi penyimpanan.
10.) Kaji ulang gejala yang dilaporkan pada dokter.
Rasional: Pengetahuan apa yang akan terjadi dapat menghindari masalah yang tak
perlu terjadi untuk alasan yang tidak penting.
11.) Diskusikan pentingnya mengikuti perjanjian.
Rasional: Angina adalah gejala penyakit arteri koroner progresif yang harus
dipantau dan memerlukan keputusan program pengobatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Asuhan Keperawatan Cardiovaskuler.
2. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi Ke Tiga, Penerbit Balai Pustaka FKUI,
Jakarta 1996.
3. Kapita Selekta Kedokteran, edisi Kedua Editor Junaedi Purnawan dan Kawan-Kawan,
Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, 1982.
4. Ely Ismudianti Rilantono dkk, Buku Ajar Kardiologi, Balai Penerbit FKUI, 1998.
5. Makalah Askep Pada Pasien Angina Pektoris, Akademi Keperawatan Depkes RI Tidung
Makassar.
6. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And Documenting Patient Care, edisi
ketiga, Alih Bahasa: I Made Kariasa, SKp. Dan Ni Made Sumarwati, SKp.
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000.
Subscribe to:
Comments (Atom)
