APPENDICITIS
Pengertian
Appendicitis merupakan inflamasi apendiks, suatu bagian seperti kantung yang non fungsional dan terletak di bagian inferior sekum. Penyebab paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh feses, yang akhimya merusak suplai darah dan merobek mukosa yang menyebabkan inflamasi (Wilson & Goldman, 1989).
Patofisiologi
Bila apendiks tersumbat, tekanan intraluminal meningkat, menimbulkan penurunan drainase vena, trombosis, edema, dan invasi bakteri dinding usus. Bila obstruksi berlanjut, apendiks menjadi semakin hiperemik, hangat, dan tertutup eksudat yang seterusnya menjadi gangren dan perforasi.
Komplikasi
Komplikasi utama berhubungan dengan apendisitis adalah peritonitis, yang dapat terjadi bila apendiks ruptur.
Bila terjadi perforasi klien memerlukan antibiotik dan bedah drainase.
Penatalaksanaan
Apendektomi (pembuangan apendiks) adalah satu-satunya tindakan. Tidak ada penatalaksanaan medikal terhadap apendisifis. Sampai pembedahan dapat dilakukan, cairan intravena dan antibiotik diberikan.
Intervensi bedah meliputi pengangkatan apendiks (apendektomi) dalam 24 sampai 48 jam awitan manifestasi. Pembedahan dapat dilakukan melalui insisi kecil atau laparoskopis. Bila operasi dilakukan pada waktunya, laJu mortalitas kurang dari 0,5%. Penundaan selalu menyebabkan ruptur organ dan akhimya peritonitis. Pembedahan sering ditunda, namun karena diagnosis sulit dibuat dan klien sering mencari bantuan medis tetapi terlambat.
Klien lansia mungkin menunjukkan manifestasi yang sangat sedikit dan tidak mendari bantuan sampai terjadi perforasi yang telah sembuh.
Diagnosa Banding
Diagnosis juga mungkin sulit pada anak kecil. Banyak penyakit yang menyerupai apendisitis:
- Adenitis mesenterik
- Kista ovarii
- Kolelitiasis
- Batu ginjal atau uretral
- Divertikulitis
- Divertikulum Meckel
DIAGNOSA KEPERAWATAN 1 :
Risiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer (risiko terhadap ruptur, peritonitis, dan pembentukan abses) sekunder akibat proses inflamasi.
Tujuan
Pasien bebas dari infeksi
Kriteria Hasil
Tanda vital dalam batas normal ; normotermia, HR 80 - 100 X/mt, TD =100/60 - 120/80 mm Hg, RR 16-20 X/mt dengan pola dan kedalaman normal (eupnea);
Abdomen lunak dan tak distensi;
bising usus 5-34/mnt pada setiap kuadran abdomen.
Setelah instruksi, pasien mengungkapkan rasional untuk tidak memberikan enema atau laksatif praoperasi dan enema pascaoperasi dan memenuhi pembatasan terapeutik.
INTERVENSI KEPERAWATAN:
1. Kaji dan dokumentasikan kualitas, lokasi, dan durasi nyeri. Waspada terhadap nyeri yang menonjol dan umum atau terhadap berulangnya muntah, dan perhatikan apakah pasien melakukan posisi miring atau telentang dengan lutut fleksi. Adanya tanda ini menandakan memburuknya apendisitis, yang dapat mengarah pada ruptur. Waspada terhadap nyeri yang memburuk dan kemudian menghilang-menandakan bahwa ruptur telah terjadi.
1. Pantau TV terhadap peningkatan suhu, peningkatan frekuensi nadi, hipotensi, dan pernapasan dangkal/cepat; kaji abdomen terhadap kekakuan, distensi, dan penurunan atau tidak adanya bising usus, salah satu ini dapat terjadi pada ruptur. Konsul dokter tentang temuan bermakna.
1. Waspadakan pasien tentang bahaya tindakan sendiri praoperasi dengan enema dan laksatif karena ini dapat meningkatkan peristaltik, yang meningkatkan risiko perforasi. Bila konstipasi terjadi pascaoperasi, dokter dapat memberikan laksatif/pelunak feses setiap jam setelah hari ketiga. Ingatkan pasien bahwa enema harus dihindari sampai diizinkan oleh dokter (biasanya beberapa minggu setelah pembedahan)
1. Ajarkan pasien tentang perawatan insisi pascaoperasi, serta perawatan drein bila pasien dipulangkan dengan alat ini.
1. Berikan instruksi tentang antibiotik yang diresepkan bila pasien dipulangkan dengan obat ini.
DIAGNOSA KEPERAWATAN 2 :
Nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan
Dalam 1-2 jam intervensi penghilangan nyeri, persepsi subjektif pasien tentang nyeri menurun,
Kriteria hasil
skala nyeri. Indikator-indikator objektif, seperti meringis (tidak ada atau menurun).
INTERVENSI KEPERAWATAN:
1. Kaji dan dokumentasikan kualitas, lokasi, dan durasi nyeri, gunakan skala nyeri dengan pasien, rentangkan ketidaknyamanan dari 0 (tidak ada nyefi) sampai 0 (nyeri paling buruk). Waspada tentang karakteristik ketidaknyamanan selama tahap-tahap berikut dari apendisitis:
- Tahap awal: Nyefi abdomen (baik epigastrik atau umbilikal) yang mungkin tidakjelas atau menyebar; mual dan muntah; demam; sensitivitas di atas area apendiks.
- Tahap intermediet (akut): Nyeri yang berpindah dari epigastrium ke kuadran kanan bawah (KKB) pada titik McBurney (kira-kira 2 inci dari spina iliaka superior anterior pada garis gambar dari umbilikus) dan yang meningkat dengan berjalan atau batuk. Nyeri dapat disertai dengan sensasi konstipasi (sensasi “gas berhenti”). Anoreksia, malaise, kadang-kadang diare, dan penurunan peristaltik juga dapat terjadi.
- Apendisitis akut dengan perforasi: Peningkatan nyeri umum; berulangnya muntah; peningkatan kekakuan abdomen.
1. Obati pasien dengan antiemetik, sedatif, dan analgesik sesuai program; evaluasi dan dokumentasikan respons pasien, dengan menggunakan skala nyeri.
1. Pertahankan pasien puasa sebelum pembedahan; setelah pembedahan, mual dan muntah biasanya hilang. Bila diprogramkan, pasang selang gastrik untuk dekompresi.
1. Ajarkan teknik untuk pernapasan diafragmatik lambat untuk menurunkan stres dan membantu rilaks otot yang tegang.
1. Bantu posisi pasien untuk kenyamanan optimal. Beberapa pasien menemukan kenyamanan pada posisi miring dengan lutut ditekuk, sedangkan yang lain merasa hilang bila telentang dengan bantal di bawah lutut. Hindari tekanan pada area popliteal. Lihat diagnosa dan intervensi keperawatan pada Perawatan Pasien Praoperasi dan Pascaopearsi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

link askep lengkap,, :)
ReplyDeletemediakeperawatan.com